Teori dan Praktek

31 03 2014

bismillah,

sudah seringkali kita dengar dibidang mana saja hampir selalu ada perdebatan mengenai teori dan praktek, kalau dalam idiom agama kita kenal teori dan praktek dengan istilah ilmu dan amal, jika kita kaitkan dengan dengan term dalam idiom agama, mungkin sebagian dari kita pernah mendengar “sebaik-baik ilmu ialah yang diamalkan dan bermanfaat, dan sebaik-baik amal ialah yang amal yang disertai ilmu”, artinya jika kita korelasikan bahwa sebaik-baik teori adalah teori yang dapat diaplikasikan, dan sebaik-baik praktek adalah yang sesuai dengan teori. jika kita melakukan sesuatu tanpa dasar teori yang kuat maka prakteknya lemah.

saya sendiri tidak melihat mana yang lebih utama apakah teori atau praktek, dua-dua nya sama-sama utama hanya tahapan nya saja yang berbeda, teori sangat diperlukan sebelum praktek dimulai; akan tetapi di dalam pekerjaan yang kita geluti karena keterbatasan waktu dan kemalasan kita, maka sering kita menggunakan istilah “learning by doing” dan ini juga tidaklah terlalu salah. meskipun pada dasarnya kita semua ini ber-proses untuk mencari yang lebih baik.

banyak juga pemahaman baru kita akibat dari praktek kita, sehingga barangkali memang sebetulnya teori dan praktek itu adalah suatu siklus, artinya dari teori kita praktek kemudian dari praktek itu kita mendapatkan teori baru, semacam dialektika.

jika kita terlalu sibuk dengan teori barangkali praktek kita lemah, dan jika terlalu sibuk dengan praktek teori kita lemah ; padahal keduanya dibutuhkan, dan seringkali teori baru didapatkan setelah praktek. jika kita aplikasi ke pendidikan tinggi yang ada di Indonesia, kita kenal ada 5 jenis perguruan tinggi, mulai dari Institut, Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik. yang saya kenal Universitas dan Politeknik, dimana Universitas bertujuan menghasilkan lulusan yang berwawasan research (teoritis) dan Politeknik bertujuan menghasilkan lulusan yang berwawasan aplikatif (praktisi), tidak ada yang lebih unggul dari keduanya semuanya tetap harus berjalan beriringan.

barangkali pembaca merasakan getaran jika tulisan ini bernuasa bijak, bijak atau tidak bijak itu bukan persoalan yang lebih utama menurut saya bagaimana kita memandang sebuah persoalan dengan sudut pandang yang tepat, dengan mengerti masalah yang utama terlebih dulu sebelum menentukan jalan keluar, dan saya pun masih belajar sehingga sangat rawan sekali melakukan kesalahan, dan jika tidak diingatkan maka saya sendiripun tidak mengerti kalo saya salah. pada dasarnya jangan sampai kita tidak tahu kalau kita salah, dan yang mengerti jika ada kesalahan sudah menjadi kewajiban untuk meluruskannya.

namun terkadang cara meluruskan inilah yang sering keliru, niat baik ingin meluruskan namun belum cukup ilmu hanya mengandalkan ego sehingga yang timbul ya pertengkaran dan dendam. karena kita masih sering merasa kalau dengan kritik itu kita jatuh wibawa, dengan hina-an kita jatuh harga dirinya, dan barangkali kaum peng-kritik-pun merasa dengan meng-kritik menjadikan seorang peng-kritik itu lebih berwibawa dan lebih terhormat. bagi saya pribadi kritik itu perlu untuk tujuan memperbaiki bukan untuk tujuan menjatuhkan, jika kita merasa belum cukup ilmu untuk meng-kritik maka cara penyampaian kita bukan dengan cara meng-kritik keras tapi dengan halus misalkan dengan memberikan sudut pandang yang berbeda.

jika kita membaca karya-karya tokoh Indonesia baik dari tokoh rohaniawan, negarawan, sastrawan ataupun para pengusaha, semisal kita baca karya nya Pramoedya Ananta Toer mulai dari Tetralogi Bumi Manusia dan sebagainya atau kita baca karyanya Buya Hamka melalui Tasauf Modern-nya, atau Penyambung lidah bangsa indonesina-nya Bung Karno yang merupakan karya Cindy Adam. yang kita dapatkan dari buku itu tentu berbeda masing-masing orang, karena apa perbedaan itu? tingkat pemahaman bahasa kita saja berbeda dan lain sebagainya. jelas sekali bahwa memahami sesuatu itu tiap orang berbeda, maka doa kita sebelum belajar sering diajarkan dulu oleh guru ngaji sewaktu kecil “robbi zidni ilman warzuqni fahma” (Ya Tuhanku Tambahkanlah ilmu kepada ku dan berikan aku rizqi kepahaman), doa ini penting karena jangan sampai kita merasa lebih mengerti tentang sesuatu hal yang padahal kita belum mengerti betul hal itu.

kalau menurut Budayawan Emha Ainun Najib yang sering disapa dengan sebutan Cak Nun, bahwa ada 5 tipe manusia berdasarkan tingkat pemahamannya :

1. orang yang mengerti kalau dia mengerti

2. orang yang mengerti kalau dia tidak mengerti

3. orang yang tidak mengerti kalau dia mengerti

4. orang yang tidak mengerti kalau dia tidak mengerti

5. orang yang tidak mengerti kalau dia tidak mengerti dan merasa mengerti

tentu saya sendiripun merasa jangan-jangan saya termasuk tipe no-5, tidak mengerti kalau tidak mengerti tetapi merasa mengerti, sehingga setiap tulisan saya sendiripun saya tulis salah satunya dengan tujuan untuk suatu saat dibaca kembali entah berapa tahun setelah dituliskan untuk mengenali seberapa jauh saya telah bertumbuh.

salam,

MA

 

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Civil engineering as viewed by me

A civil engineer note for civil engineers

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, Professional Lecturer, writer, blogger

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: