the direction

10 03 2012

bicara mengenai spirtual, selama hampir lebih dari 2 tahun pernah saya meninggalkan kepercayaan yang saya anut, dan orang terdekatpun mulai merasa khawatir apa yang terjadi kepada diri saya. rasanya sebuah penyesalan yang ada ketika diri sendiri tidak mampu jujur terhadap diri sendiri itu, apakah memang ada dua diri dalam diri ini, atau hanya ide dan pikiran saja hal ini bisa terjadi.

mencoba berfikir logis agar semua hal yang mampu kita rasakan selalu ada alasan mengapa hal itu terjadi, seringkali memikirkan mengenai eksistensi diri dan kehidupan berujung pada hal yang tidak bisa diukur atau dipastikan. sehingga hanya menimbulkan kebingungan lagi, atau justru keragu-raguan, jangan-jangan apa yang kita yakini dan kita resapi selama ini itu adalah salah.

itulah ketakutan diri saya, sejujurnya saya masih bingung mengenai hal benar dan salah, baik dan buruk, sopan tidak sopan. itu semua kan karena kebudayaan yang membentuk kita, mungkin saya mencari universalitas, hal yang sama dalam diri manusia, baik itu asian, american, europan, bahkan african. 

nilai-nilai ini tentu berbeda, misalnya di dalam pedoman saya, bahwa mengalah itu adalah baik, tapi sebagian orang mengatakan mengalah itu lemah. kenapa bisa terjadi perbedaaan nilai yang menjadi pegangan bagi setiap manusia. terjadinya pertumpahan darah juga disebabkan karena ada rasa saling ingin menguasai, peperangan dan hal buruk lainnya juga paling mendasar adalah karena adanya rasa ingin mengusai.

salah jika kita mencintai negara kita, maka kita juga egois ingin negara kita maju, berarti ada negara lain yang tadinya maju menjadi tidak maju, lalu kenapa alasan kita perlu memikirkan hal ini. karena harga diri bangsa, yang katanya jika negara kita terpuruk kita adalah negara tanpa harga diri. dan kenapa kita harus maju karena agar kita bisa menjadi manfaat bagi orang lain.

padahal jelaslah ketika disatu sisi kita bermanfaat bagi orang lain, di tempat lain kita adalah orang yang menjadi manfaat bagi orang lain, maksud saya ya seperti berputar saja. lalu apa dengan alasan ini menjadikan kita tidak perlu menjadi manfaat bagi orang lain, tidak seperti itu. saat di tempat lain kita di tinggi-kan, maka tentu di tempat yang lainnya kita justru di tidak tinggi seperti tempat yang pertama.

jelaslah mengapa ada yang dinamakan agama, sepertinya agama itu ada untuk membuat jiwa dan pedoman hidup ini jelas. yaitu bisa menjadikan diri ini sebanyak-banyaknya manfaat bagi orang lain. ya itulah kepercayaan dan cita-cita saya menjadi manusia sempurna adalah menjadi manusia yang memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain.

tulisan ini terasa kurang fokus dan terarah, akan tetapi terarah dan fokus adalah produk yang kaku, maka saya menulis dengan tanpa arah yang jelas, meskipun saya mengerti juga bahwa arah itu adalah hal penting. menentukan arah dari sheila on 7 bisa menjadi pilihan yang baik untuk didengarkan setelah membaca tulisan ini..🙂


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: