Quality Control dan Quality Assurance dalam Pondasi Dalam

18 06 2013

Berbicara QA/QC pondasi dalam tentu seharusnya di bahas oleh seorang certified geotechical engineer, keterbatasan saya karena masih dalam tahap belajar dan belum mempunyai cukup pengalaman, saya hanya menceritakan sedikit saja :

Menurut definisi pada ISO 9000:2000 (QMS-Fundamentals and Vocabulary), adalah sbb:

Quality control (lihat section 3.2.10); part of quality management focused on fulfilling quality requirements.

Quality assurance (lihat section 3.2.11); part of quality management focused on providing confidence that quality requirements will be fulfilled.

Tentu masalah kualitas adalah isu penting dalam setiap pekerjaan apapun itu, kalau di dunia konstruksi umumnya, khususnya pada fondasi untuk masalah kualitas bisa dibagi beberapa tahap ; sebelum pelaksanaan, saat pelaksanaan, dan sesudah pelaksanaan.

tentu membahas masalah pondasi dalam, tidak terlepas dari type pondasi dalam yang digunakan, umumnya masalah kualitas ini biasanya dilakukan uji tertentu untuk memastikan apakah material yang digunakan sudah memehuni standar kualitas atau belum, misalnya untuk pondasi dalam tipe tiang bor,

sebelum pelaksanaan pengecoran :

– kedalaman lubang bor harus sudah sesuai rencana

– longsoran/endapan lubang bor masih dapat di terima seperti yang tecantum di spek

– tulangan keranjang tiang bor, kualitas besi harus sudah lulus uji tarik dan bersertifikat

– dimensi tulangan kerancang sudah sesuai spek, baik sambungan, spiral dan kadar korosinya

– ukur kembali koordinat sebelum dan sesudah pengeboran, dipastikan titik bor sudah sesuai koordinat rencana, perbedaan koordinat rencana yang cukup jauh dapat mengakibatkan eksentritas beban dan menghasilkan bending momen yang berbeda.

 

saat pelaksanaa pengecoran :

– hitung perbandingan volume teoritis beton dan volume actual beton, usahakan volume beton mendekati volume teoritis, jika terjadi perbedaan volume beton antara teoritis dan aktual, maka perlu dibuatkan berita acara penjelasan mengenai ini jika volume teoritis > volume actual besar kemungkinan terjadi endapan yang cukup besar di dasar tiang, atau jika volume beton teoritis < volume beton actual atau di kenal dengan istilah over-break maka besar kemungkinan terjadi pembesaran tiang namun kedalaman tiangnya akan lebih pendek dari rencana awal.

– sangat perlu diperhatikan pada saat pengecoran tidak adanya delay waktu yang lama (>20 menit) antar truk mixer beton, hal ini bisa mengakibatkan tiang bor tidak komposit sehingga tidak menjadi satu kesatuan utuh karena perbedaan waktu setting antar beton, sangat disarankan pengecoran hanya dilakukan ketika volume beton yang tersedia sudah memehuni kebutuhan volume beton teoritis dengan batas toleransi. akibat dari delay ini bisa berdampak pada berkurangnya kapasitas ijin tiang bor itu sendiri.

– pada saat pengecoran mendekati COL tiang, diharuskan mengukur kembali elevasi tiang harus sesuai rencana, ini bisa di cross chek juga dengan menggunakan perbandingan hitungan volume teoritis dan volume actual beton tertuang. dampak dari ini bisa mengakibatkan under case, yaitu top of tiang berada di bawah COL, treatment untuk kasus semacam ini cukup spending big cost, so be careful to avoid this case.

 

setelah pengecoran :

– umumnya tiang bor yang telah dicor yang sebelumnya telah dipasang pipa untuk Cross Hole Sonic Logging, tujuannya untuk memastikan bahwa integritas beton sudah seragam (straight) tidak adanya necking dan pembesaran, hasil ini juga bisa di cross check dengan boring record. jika hasil test mengindikasikan adanya necking atau hal lain, maka tiang tersebut bisa direject atau tidaknya adalah dengan advise dari konsultan geoteknik.

– bila pada saat review boring record ada terjadi keanehan, maka perlu dilakukan pengecekan ulang dengan melakukan non destructive testing atau destructive testing, bisa melalui test PIT (pile integrity test), atau mungkin juga bisa dengan melakukan coring pada beton.

– untuk memastikan kapasitas tiang bor actual harus dilakukan dengan static loading test axial tekan, tarik, dan lateral. test ini adalah wajib untuk mengkonfirmasi dari desain awal. hasil test ini tidak diharuskan selalu bagus, artinya jika hasil test tekan, tarik, dan lateral dibawah desain, kejadian ini masih bisa diperbaiki dengan re-desain ulang dengan menggunakan hasil test yang valid.

– untuk test axial tekan bisa dikombinasikan dengan menggunakan metode dynamic yaitu PDA test (Pile Dynamic Analyzer) dimana TPKB hanya menyarankan 1/3 dari 1% jumlah tiang yang bisa dilakukan oleh PDA, sementara 2/3% nya tetap harus mengunakan metode static loading test (kentledge atau reaction).

sementara ini saja dulu yang bisa saya share, nanti s=akan dilanjutkan lagi..

massa, cimone


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: