nostalgia tak pernah berawal dari kebencian

20 10 2013

Yeah, agak jarang saya menulis sebuah ekspresi karena alasan satu hal yaitu saya menahan diri sebisa mungkin dari ekspresi yang berlebihan.

Namun kali ini agak berlebihan, bulan september – oktober 2013 menjadi bulan yang agak berat dibanding tahun sebelumnya.

Ekspresi tentang sebuah perasaan, dimana tumbuh rasa suka dan kagum pada seseorang yang kita mampu melakukan apa saja utk dia tetapi hny satu yg kita tdk mampu yaitu dia merespon seperti yang kita inginkan.

Seringkali ketidakmengertian kita atas diri kita sendiri, bagaimana mengukur diri, apakah ini baik dan tepat bagi kita, kitapun masih bingung dan gamang, hanya bekal keyakinan saja. Merasa diri mampu akan hal yang di luar kemampuan kita yang sesungguhnya merupakan sebuah ketidakmengertian atas diri sendiri.

Tentu saja hal semacam ini seperti sebuah pukulan keras, tetapi justru dari pukulan keras semacam ini kita mampu terbangun dari tidur selama ini. “We never know until we try” begitu pepatah mengatakan,

Sangat manusiawi menginginkan sesuatu yang besar, yang sulit, yang melebihi kemampuan sesungguhnya yang kita miliki. Menjadi orang yang sebisa mungkin menjadi manfaat bagi banyak orang, terutama orang yang kita anggap penting. Namun seringkali kita lupa sendiri tentang apa yang sebenarnya kita cari.

Kita mungkin terlalu sibuk mencari sedikit saja perhatian dari orang yang kita anggap penting. Mencoba melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita pada umumnya, kita juga merasa bahwa rasa kita ini adalah penuh ketulusan. Lantas kenapa ketika tak sesuai harapan justru malah sedih atau mungkin bahkan kecewa, bukankah tulus itu tak pamrih. Atau kita merasa sombong bahwa kita bisa membuat dia senang atau lebih baik jika bersama kita, atau sebetulnya sebaliknya kitalah yang butuh dia dan kitalah yang senang dan lebih baik jika bersamanya.

rasa yang terakhirlah yang mewakili perasaan saya, bahwa sayalah yang butuh dia, dia ndak butuh saya sama sekali. lantas saya menghormati dia dg keputusannya ketika saya tanya “masih bolehkah saya utk melakukan pendekatan?” dia mengatakan bahwa “mending ndak usah”. saya sendiri mencoba menguatkan tekad dengan berusaha utk tidak mengganggunya lagi meskipun itu sulit.

meskipun rasa ini masih ada dan dg pikiran tenang saya bertanya pd diri sendiri, masih perlukah saya kejar dia? hati berkata “kejarlah” namun pikiran menolaknya, entah terbalik saya tidak tahu lagi mana pikiran dan mana hati yang berbicara.

saya mencoba santai setidaknya pada diri sendiri, utk hanya melakukan apa yg bisa saya lakukan dg kapasitas saya. Menawarkan bantuan menurut saya adalah sebuah sikap kesombongan, apalagi menawarkan kebahagian bagi orang lain.

maka sebisa mungkin saya menahan diri utk tidak menawarkan apapun saja utk dia, dg alasan memang tidak ada yg bisa saya tawarkan, dan tidak ada yang bisa saya jual.

sebagian orang mgkn beranggapan ini sikap pesimis tapi tidak bagi saya, ini sikap nrimo ing pandum urip ora ngoyo ala jawa


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: