kesan

4 11 2013

kesan, dalam bahasa saya artinya penilaian orang terhadap apa yg dilihatnya, didengarnya, dan dirasakannya. mungkin memang manusiawi sekali jika kita selalu ingin terkesan baik, unggul, dan bagus di mata orang lain. tentu saja banyak dari kita melakukan pencitraan.

citra mungkin memang sebuah kesan yg tampak dari luar, pernah seorang penulis mengatakan bahwa kita harus mulai waspada terhadap pengertian-pengertian kata yg kita tulis. setidaknya definisi kata yg kita tulis maupun ucapkan, kita pahami menurut sumber yang jelas seperti KBBI misalnya.

banyak kritikus yang seringkali mengkritik penggunaan kata yg digunakan seorang publik figure yang terkadang tidak tepat bahkan mungkin justru salah. kalau saya melihatnya itu proses belajar. saya sendiri yang notabene tidak punya pengalaman dan keahlian dalam menulis sebuah ekspresi secara gamblang, sangat takut salah jika hanya menulis sekedar update status misalnya, baik di socmed twitter atau yg lainnya. maka saya lebih banyak diam, dan hanya bisa membaca TL dari mereka yang berani.

terkadang saya berargumen, bukan sesuai argumen saya tapi ingin terkesan argumen saya bagus dan inspiratif. maka kebiasaan saya ini menimbulkan kesan palsu terhadap pikiran saya sendiri. karakter seorang pendiam yang ketakutan menyampaikan pendapat, sehingga hingga hari ini masih belum mampu berpendapat layaknya kebanyakan orang diusia seperempat abad ini.

seorang yang merasa berpendidikan tinggi ini, sangat takut sekali dilecehkan, diremehkan, diacuhkan oleh dunianya sendiri. bahkan mungkin takut juga untuk tidak mampu menjadi seorang engineer yang benar-benar engineer. kalau Pram pernah mengatakan bahwa satu-satunya harga diri yaitu adalah memiliki keberanian, maka saya termasuk orang yang tak punya harga diri.

umbu landu paranggi yang dikenal sebagai presiden malioboro di tahun 50 an (mohon dikoreksi)   dikisaran tahun 60-70 an (mohon dikoreksi), pernah saya baca tulisannya tentang kita boleh mengidolakan seseorang tapi jadilah dirimu sendiri. sebagai orang yang pernah tinggal di desa selama 14 tahun, lalu 10 tahun merantau di kota boleh jadi pemikiran saya agak modern. modern dalam arti melupakan klenik, tradisi tradisi desa, mitos mitos desa dengan mengubah paradigma pemikiran saya ke arah yg sitematis dan logis.

seringkali ketakutan saya, menganggap apa yg saya sebut kemajuan sebetulnya adalah kemunduran, merasa tinggi derajat karena memperoleh pendidikan tinggi, sehingga ketika ada orang yg pendidikan lbh rendah meremehkan maka harga diri saya seolah tersinggung. inilah mungkin kekurangan rasa percaya diri.

rasa percaya diri saya tumbuh besar ketika saya bisa melakukan apa saja karena banyaknya uang di dompet, di atm. memakai barang-barang yang bermerek, melakukan aktivitas yg banyak dilakukan oleh orang-orang berduit. lantas ketika saya kehabisan uang, barang-barang bermerekpun saya jual, seolah rasa percaya diri ini hilang. ketika mau makan di restoran besar agak kikuk, pertama karena takut kekurangan uang buat bayarnya.

saya mencoba memetakan ini, lalu seperti apa seharusnya rasa percaya diri itu tumbuh dengan karakter saya, bukan dengan harta, dan barang yg saya punya. saya coba juga belajar dengan keras agar bisa menjadi pendekar di bidang yang saya geluti, merasa hebat berbicara ttg bidang saya di depan orang yang belum lama di bidang itu kepercayaan diri meningkat lagi. tetapi kemudian saat berkumpul sesama ahli di bidangnya, saya tak mampu berkata ataupun berpendapat seperti dihadapan yg tidak sebidang, kepercayaan diri turun lagi.

mungkin Pram boleh jadi benar, kesalahan orang bodoh menganggap yang lain pintar, dan kesalahan orang pintar menganggap yang lain bodoh. tetapi lagi-lagi kata Umbu (seorang Guru Emha Ainun Najib) mengatakan setiap orang pada hakikatnya memiliki potensi yang sama. saya ambil kesimpulan bodoh dan pintar jadi tidak ada dan tidak penting.

pernah dengar bahwa puncak kehidupan adalah setia pada apa yang dijalani. bagi saya untuk saat ini saya setuju, itu konsep bersyukur kalau dalam idiom agama. kesimpulan sementara saya kesan adalah berkaitan dengan reputasi, sedangkan yang lebih utama adalah karakter. dari sekarang saya mencoba memulai utk dikenal melalui karakter saya, bukan dari reputasi saya. karena satu alasan saya sdh tidak ber-reputasi sama sekali, mungkin hanya bisa utk mencoba memperbaiki karakter saya.

salam,
MA


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: