manusia wajib

2 01 2014

menarik hubungan/korelasi, mencari pola dari setiap peristiwa apa saja yang dialami mungkin memang lazim dialami semua orang. dengan meminjam istilah dari Cak Nun tentang manusia wajib, manusia sunnah, manusia mubah, manusia makruh dan manusia haram. yang ingin saya ceritakan itu terkait tentang manusia wajib yang ada di kampung halaman saya.

informasi yang saya dapat ini berawal dari interaksi saya dengan orang yang saya kagumi di kampung halaman saya, dimana kami cukup banyak sharing tentang sesuatu dan romantika masa lalu dan keceriaan masa depan tentang diri kami dan desa kami meskipun dalam waktu yang cukup singkat. saya cukup lama meninggalkan desa, sehingga tidak begitu mengerti dan mengenal desa saya serta manusia – manusia wajib yang ada di desa saya, tapi jangan ditanya soal apakah saya bangga dengan desa saya tentu kebanggaan kedaerahan dan asal-usul selalu membuat saya untuk setidaknya peduli (mungkin bisa dinamakan rasa nasionalisme terhadap desa).

bagi yang belum mengenal desa, mungkin boleh untuk sekedar mengamati kehidupan desa. dari sistem pemerintahan desa (bisa dibilang sistemnya parlementer), sistem mata pencahariaanya, serta perilaku budaya masyarakatnya. berangkat dari sistem pemerintahan desa saya, jangan ada anggapan bahwa desa itu sangat terbelakang dan tidak mengerti apa-apa, di kebudayaan kami pemilihan kepala desa lebih menentukan hidup penduduk desa dibanding pemilihan presiden dan legislatif. maka setiap diadakannya pemilihan kepala desa tentu pemilih-nya lebih banyak daripada pemilih pada pemilu besar.

desa dan kelurahan berbeda, namun saat ini saya tidak begitu mengerti apakah kepala desa juga “digaji” oleh pemerintah atau tetap seperti dulu yaitu kepala desa mendapatkan lahan yang cukup luas yang sering dinamakan “tanah beungkok” dimana inilah satu-satunya penghasilan seorang kepala desa. namun entahlah apa sekarang (2014) masih seperti ini atau sudah berubah sistemnya. desa yang saya kenal dulu, ada dua pemimpin yaitu kuwu (dari kata akuwu) dan carik (sekretaris desa). peran kuwu sebagai kepala kampung/desa, sementara peran carik adalah sebagai kepala pemerintahan. kemudian banyak pamong-pamong yang membantu kepala desa dan carik, ada yang disebut “lebe” saat ini sering disebut kaur kesra, ada yang disebut “ulu” yang mengurusin perairan.

di tempat kami yang mata pencahariannya mayoritasnya adalah petani, sering sekali kemampuan seorang “ulu” ini sangat menentukan keberhasilan panen di desa kami. kemampuan seorang yang mengurusi perairan di desa, dari menghitung kebutuhan air untuk lahan di desanya, sehingga harus mengatur jadwal kapan pintu air itu dibuka dan kapan ditutup, sementara untuk desa yang letaknya diatas harus mampu memberikan jatah air untuk lahan pertanian desa yang ada dibawahnya. sehingga dapat tercapai semua daerah mendapatkan air yang sama cukupnya sehingga panennya pun sama. ini dibutuhan skill yang sangat cukup belum tentu seorang lulusan teknik sipil dengan kekhususan hidrologi, ataupun mungkin lulusan teknik pertanian mampu melakukan sesuatu yang dilakukan oleh para “ulu” ini.

sementara tugas seorang “lebe” mengurusi 3 hal yang paling utama dalam kehidupan manusia desa, yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian. dimana 3 momentum tersebut sering dianggap adalah momentum dimana kehadiran orang yang dicintai untuk 3 momentum ini sangatlah menjadi wajib hukumnya. anda akan dianggap tidak sayang istri dan anak jika pada waktu kelahiran anak pertama tidak berada disamping istri anda, kemudian anda akan dianggap tidak peduli jika anak atau saudara dekat anda melangsungkan pernikahan sementara anda tidak menghadiri  pernikahannya, dan yang ketiga anda akan dianggap sangat tidak tahu diri jika pada hari kematian orang tua, saudara dekat dan tetangga tapi anda tidak menghadiri pemakamannya. kelebihan orang desa ada di 3 momentum tersebut, sehingga hampir seluruh warga desa di tempat saya, dalam kondisi sesusah apapun jika ada 3 momentum besar kehidupan tersebut pastilah mereka selalu ada.

kemudian ada yang disebut “carik”, sering dikenal dengan sebutan sekretaris desa, usia jabatannya seumur hidup hanya diganti ketika yang bersangkutan meninggal dunia, jika status desa sedang tidak ada “kepala desa” maka yang menggantikan posisi kepala desa yaitu carik. mungkin tugas dalam pemerintahan desa jika dalam sistem pemerintahan modern dikenal dengan istilah sistem parlementer, dan tugasnya carik ini adalah seorang kepala pemerintahan.

dan yang terakhir yaitu “kuwu” dikenal dengan sebutan kepala desa, mempunyai masa jabatan, dipilih oleh warga desa langsung bahkan jauh sebelum pemilu presiden dipilih langsung oleh rakyat, pemilihan kepala desa (kuwu) sudah dilakukan pemilihan langsung oleh warga desa tersebut.

dewasa ini, hampir semua pekerjaan yang modern sudah ada di desa, dari mulai dukun sekarang menjadi dokter, dari tukang bangunan sekarang menjadi tukang insinyur. dari kuli kini menjadi buruh. dan sama sekali ini bukan paramater sebuah kemunduran ataupun kemajuan.

salam,

MA

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: