Buya HAMKA (bagian 2) “Senangkanlah Hatimu oleh Al Anisah Mai”

19 11 2016

 

Bismillahirahmanirrahim,

Robbi zidni ilman warzuqni fahma (Ya Tuhanku tambahkan aku ilmu dan berikan aku rizqi kepahaman).. aamiin..

Kali ini saya ingin berbagi tulisan yang cukup berkesan menurut saya, dimana tulisan ini pertama kali saya baca dalam buku Tasawuf Modern buah karya Buya HAMKA, dengan judul tulisan “Senangkanlah Hatimu” oleh Al Anisah Mai.. mudah-mudahan ceritera/ tulisan tersebut bisa memberikan manfaat yang positif bagi pembaca.

Buku tasawuf modern yang saya punya hardcopy nya merupakan cetakan Republika, meskipun saat ini versi online nya bisa kita membaca buku Tasawuf Modern di alamat website : http://calipso-tasaufmoden.blogspot.co.id/, saya kurang tahu betul pemilik blog tersebut dimana dalam website itu hampir atau bahkan seluruh isi buku tasawuf modern sudah dipublikasikan di alamat website tersebut. Entah sudah berijin atau belum dari ahli waris pengarang dan penerbitnya saya pun tidak mengetahuinya, supaya kita beroleh manfaat dari bacaan buku Tasawuf Modern tersebut hendaknya jika kita mampu untuk membeli bukunya, maka membeli bukunya yang resmi lebih utama dan jika akan membaca ulang ketika sedang tidak bersama buku tersebut boleh kita membuka versi online nya diwebsite tersebut untuk membaca kembali buku yang sudah kita baca tersebut agar mendapatkan pemahaman yang lebih baik lagi.

Karena keterbatasan saya untuk tidak menuliskan ulang dari tulisan “Senangkan Hatimu” dari hardcopy buku Tasawauf Modernnya, dengan alasan efisiensi tulisan “Senangkanlah Hatimu” di bawah ini saya salin dari alamat website  http://calipso-tasaufmoden.blogspot.co.id/2008/09/senangkanlah-hatimu.html diakses pada tanggal 19 November 2016, sekira pukul 12.38 AM. Semoga pemilik blog memberikan ijinnya, bila sekiranya pemilik blog tidak berkenan saya bersedia untuk menghapusnya..

_________________________________________***_______________________________________

Senangkanlah Hatimu

Oleh: Al-Anisah Mai 

Di hadapan tugu kesedihan, berdirilah seorang pemimpin besar, sedang berpidato di hadapan beribu-ribu umat. Di antara isi pidatonya antara lain:


“Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Kerana di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan segala yang sulit-sulit. Segala perbuatanmu dihargai orang, engkau beroleh pujian di mana-mana. Engkau menjadi mulia, tegakmu teguh. Di hadapan engkau terhampar permaidani kepujian, sebab itu engkau beroleh kebebasan dan kemerdekaan. Jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Kerana engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, peyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Kefakiran dan kemiskinan adalah nikmat, yang tidak ada jalan bagi orang lain buat kecil hati, dan tidak ada pintu bagi kebencian”. 


Kalau engkau dermawan, senangkahlah hatimu! Kerana dengan kedermawanan engkau dapat mengisi tangan yang kosong, telah dapat menutup tubuh yang bertelanjang, engkau tegakkan orang yang telah hampir roboh. Dengan sebab itu engkau telah menuruti perintah hatimu dan engkau beroleh bahagia: Berpuluh bahkan beratus makhluk Tuhan akan menghantarkan pujian kepada Tuhan lantaran pertolonganmu. Kesenangan hatimu yang tadinya cuma satu, sekarang akan berlipat ganda, sebab telah banyak orang lain yang telah mengecap nikmatnya. Kalau sekiranya engkau tak kuasa jadi dermawan, itu pun senangkan pulalah hatimu! Sebab engkau tidak akan bertemu dengan suatu penyakit yang selalu menular kepada masyarakat manusia, iaitu tiada membalas guna, penghilangkan jasa. Mereka ambil kebaikkan budi dan kedermawananmu itu jadi senjata untuk menjatuhkan tuduhan-tuduhan yang rendah. Saat yang demikian mesti datang kepada tiap-tiap dermawan, yang menyebabkan hati kerapkali patah dan badan kerapkali lemah, sehingg hilang kepercayaan kepada segenap manusia, disangka manusia tidak pembalas guna. Padahal langkah belum sampai lagi kepada puncak kebahagiaan dan beroleh ampunan dari Tuhan.


Kalau engkau masih muda remaja senangkanlah hatimu! Kerana pohon pengharapanmu masih subur, dahan-dahannya masih rendang dan rimbun. Tujuan kenang-kenangan masih jauh. Sebab umurmu masih muda, mudahlah bagimu menjadikan mimpi menjadi kenyataan yang sebenarnya. Kalau engkau telah tua, senangkan pulalah hatimu! Kerana engkau telah terlepas dari medan pertempuran dan perjuangan yang sengit, dan engkau telah beroleh beberapa ilmu yang berguna di dalam sekolah hidup. Engkau telah tahu firasat, mengerti gerak gerik manusia dan tahu ke mana tujuan jalan yang ditempuhnya. Oleh sebab itu, segala pekerjaan yang engkau kerjakan itu kalau engkau suka lebih banyak akan membawa faedah dan lebih banyak tersingkir daripada bahaya. Satu detik daripada umurmu di masa tua, lebih mahal harganya daripada bertahun-tahun di zaman muda, sebab semuanya telah engkau lalui dengan pandangan yang terang dan pengalaman yang pahit.


Kalau engkau dari turunan yang mulia-mulia, tenangkanlah hatimu! Kerana dirimu tergambar dan terpeta di dalam hati tiap-tiap sahabat itu. Kalau engkau memang di dalam kalangan sahabat yang banyak itu, lazat rasanya kemenangan, dan kalau kalah tidak begitu terasa. Lantaran banyaknya orang yang menghargai dan memperhatikan engkau, engkau dapatlah insaf, tandanya harga dirimu mahal dan timbanganmu berat. Yang penting ialah engkau dapat keluar dari penyakit mementingkan diri seorang, memandang hanya dari penyakit mentingkan diri seorang, memandang hanya engkau yang benar, lalu masuk ke dalam daerah yang baru, iaitu mengakui bahawa ada lagi orang lain yang pintar, yang berfikir dan kuasa menimbang. Jika musuhmu banyak, senangkan pulalah hatimu! Kerana musuh-musuh itu ialah anak tangga untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Banyak musuh menjadi bukti atas sulitnya pekerjaan yang engkau kerjakan. Tiap-tiap bertambah maki celanya kepada engkau, atau hasad dengkinya, atau mulutnya yang kotor dan perangainya yang keji, bertambahlah teguhnya pendirianmu bahawa engkau bukan barang murah, tetapi barang mahal, dari celaannya yang benar-benar mengenai kesalahanmu, engkau dapat beroleh pelajaran. Mula-mula maksudya hendak meracunimu dengan serangan-serangannya yang kejam dan keji, maka oleh engkau sendiri, engkau saring racun itu dan engkau ambil untuk pengubat dirimu mana yang berfaedah, engkau buangkan mana yang salah.

Ingatlah: Pernahkah seekor burung helang yang terbang membubung tinggi memperdulikan halangan burung layang-layang yang menghalanginya?


Kalau badanmu sihat, senangkanlah hatimu! Tandanya telah ternyata pada dirimu kekayaan Tuhan dan kemuliaan nikmatNya, lantaran badan yang sihat, mudahlah engkau mendaki bukit kesusahan dan menempuh padang kesulitan. Kalau engkau sakit, senangkan pulalah hatimu! Kerana sudah ternyata bahawa dirimu adalah medan tempat perjuangan di antara dua alam yang dijadikan Tuhan, iaitu kesihatan dan kesakitan.


Kemenangan akan terjadi kepada salah satu yang kuat, kesembuhan mesti datang sesudah perjuangan itu, baik kesembuhan dunia, ataupun kesembuhan yang sejati.


Kalau engkau menjadi orang luar biasa, senangkanlah hatimu! Kerana pada tubuhmu terdapat cahaya yang trang benderang tandanya Tuhan selalu melihat engkau dengan tenang sehingg menimbulkan kesuburan dalam fikiranmu, dilihatNya otakmu sehingga cerdas, dilihatNya mata sehingga jadi azimat, dilihatNya suaramu sehingga jadi sihir. Bagi orang lain, perkataan dan tiap-tiap suku kalimat yang keluar dari mulutnya hanya menjadi tanda bahawa dia hidup saja. Tetapi bagi dirimu sendiri menjadi cahaya yang berapi dan bersemangat, boleh meninggikan, boleh memuliakan dan boleh menghinakan, sehingga bolehlah engkau berkuasa berkata kepada alam” “Adalah”, sehingga dia pun “Ada”.


Kalau engkau dilupakan orang, kurang dikenal, senangkan pulalah hatimu! Kerana lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu, tak ada orang lain yang dengki kepadamu, tak ada orang yang meniatkan jatuhmu, mata tak banyak memandangmu. Itu, dihadapanmu ada puncak bukit kemuliaan orang yang masyhur itu berdiri di atas masyarakat, dan engkaupun salah seorang dari anggota masyarakat itu. Rumah batu yang indah, berdiri di atas kumpulan tanah dan pasir yang kecil-kecil. Dengan demikian itu, engkau akan merasai kesenangan hati yang kerapkali tak didapat oleh yang bibirnya tak pernah merasai air hidup dan rohnya tak pernah mandi di dalam ombak ilham.


Kalau sahabatmu setia kepadamu, tenangkanlah hatimu! Kerana pertukaran siang dan malam telah menganugerahi engkau kekayaan yang paling kekal. Kalau kawanmu khianat, senangkan juga hatimu! Sebab kalau kawan-kawan yang khianat itu mungkir dan meninggalkan engkau,tandanya dia telah memberikan jalan yang lapang buat engkau.


Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperhamba, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perhambaan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperhamba kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu. Itulah perjuangan yang menentukan hidup atau mati, dan itulah yang meninggalkan nilai. Ketahuilah bahawa tidaklah didapat suatu bangsa yang terus menerus dijajah. Jika engkau dari bangsa merdeka, senangkanlah hatimu! Sebab engkau duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa yang lain, ada bagiu kesempatan mencari kekuatan baru. Kemerdekaan itu mesti diisi dengan bahan-bahan yang baik, dan bagimu terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk itu.

Kalau engkau hidup dalam kalangan orang-orang yang kenal akan diri dan cita-cita engkau, senangkanlah hatimu! Kerana di sana engkau dapat mengusahakan tenaga muda setiap hari, dan kekuatan pun bertambah, roh serta semangat menjadi baru. Engkau bertambah subur dan tegak, menaungi lautan dan daratan. Kalau engkau hidup dalam kalangan masyarakat yang masih rendah, yang tidak mengerti bagaimana menghargai cita-cita orang, sehingga engkau merasa ‘sial-dangkal’, maka senangkan juga hatimu! Kerana dengan sebab itu engkau beroleh kesempatan jadi burung, lebih tinggi terbangmu daripada orang-orang yang patah sayap itu. Engkau boleh melayang ke suatu langit khayal, untuk mengubati fikiranmu yan gelisah, untuk melepaskan dahaga jiwamu.


Kalau engkau dicintai orang dan mencintai, senangkahlah hatimu! Tandanya hidupmu telah berharga, tandanya engkau telah masuk daftar orang yang terpilih. Tuhan telah memperlihatkan belaskasihanNya kepadamu lantaran pergaduhan hati sesama makhluk. Dua jiwa di seberang masyrik dan maghrib telah terkongkong dibawa satu perasaan di dalam lindungan Tuan. Di sanalah waktunya engkau mengetahui rahsia perjalanan matahari di dalam falak, ketika fajarnya dan terbenamnya, tandanya Tuhan telah membisikkan ke telingamu nyanyian alam ini. Lantaran yang demikian dua jiwa berenang di langit khayal, di waktu orang lain terbenam. Keduanya berdiam di dalam kesukaan dan ketenteraman, bersenda gurau di waktu bersungguh-sungguh. Jika engkau mencinta tetapi cintamu tak terbalas, senangkan jugalah hatimu! Kerana sesungguhnya orang yang mengusir akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepada orang yang diusirnya itu setelah dia jauh dari matanya, dia akan cinta, cinta yang lebih tinggi darjatnya daripada cinta lantaran hawa. Terpencil jauh membawa keuntungan insaf, kebencian meruncingkan cita-cita dan membersihkan perbuatan. Sehingga lantaran itu hati akan bersih, laksana bejana kaca yang penuh berisi air khulud, air kekal yang dianugerahkan Tuhan. Dengan sebab itu, engkau akan beroleh juga kelak tempat merupakan cinta itu, kalau tak ada pada insan, akan ada pada yang lebih kekal daripada insan. Bersedialah menerima menyuburkan cinta, walaupun bagaimana besarnya tanggunganmu, kerana cinta memberi dan menerima, cinta itu gelisah, tetapi membawa tenteram. Cinta mesti lalu di hadapanmu, sayang engkau tak tahu bila lalunya. Hendaklah engkau jadi orang besar, yang sanggup memikul cinta yang besar. Kalau tak begitu, engkau akan beroleh cinta yang rendah dan murah, engkau menjadi pencium bumi, engkau akan jatuh ke bawah, tak jadi naik ke dalam benteng yang kuat dan teguh, benteng yang gagah perkasa yang sukar tertempat oleh manusia biasa.

Kerana tugu cita-cita hidup itu berdiri di seberang kekuasaan dan kemelaratan yang diletakkan oleh kerinduan kita sendiri.


Merasa tenteramlah selalu, senangkanlah hatimu atas semua keadaanmu, kerana pintu bahagia dan ketenteraman itu amat banyak tak terbilang kesulitan perjalanan hidup kian minit, kian baru.


Merasa senanglah selalu!

Merasa tenteramlah!

Demikian bunyi padato itu.

***
Pemimpin itu telah habis pidato dan khutbahnya telah selesai; 79 orang telah bersurai hendak menuju hidupnya masing-masing. Tetapi kulihat beberapa jamaah masih tinggal di sana, berdiri di kaki tugu yang tinggi itu, sedang menangis dan meratap. Padahal orang lain yang lal dekat mereka, sedang tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba kelihatan berdiri di dekatku bayang-bayang dia melihat kepadaku dengan rupa hendak bertanya. Dia pun berkata:

“Saya ini adalah semangat dari pidato yang diucapkan pemimpin tadi. Saya datang ke mari merupakan diri hendak melihat bekasku pada hati manusia yang mendengarkan daku”

Kalau begitu engkau pun tahu apakah sebabnya orang-orang itu menangis! Kataku.

“Mereka menangis, kerana inilah dinding ratap”.

Mengapa mereka meratap mengapa itu disebut dinding ratap apakah mereka itu orang Yahudi? Apakah kita sekarang di Jerusalem? Tanyaku.

“Kemanusiaan pun berdinding ratap pula, seperti Yahudi mempunyai dinding ratap, tempat dia menangis dan menanyakan sesal”. Jawabnya.

Mengapa mereka menangis dan meratap sesudah mendengar pidato yang amat bererti dan penuh harapan, pidato yang menyatakan bahagia sejati itu?

Dia menjawab:

“Sebahagian orang menangis kerana belum pernah mendengar pidato begitu. Setengahnya menangis lantaran telah pernah mendengar tetapi belum mengambil faedah daripadanya. Setengahnya lagi menangis lantaran telah pernah mendengar, telah pernah pula mengamalkan; sekarang dia meratapi nikmat yang telah hilang daripadanya, kerana dia tak kuasa memegang teguh, sebab kencangnya ombak dan gelombang yang memukulnya, dari kenikmatan kepada putus pengharapan. Yang lain pula menangis lantaran melihat orang lain menangis. Demikian jika sekiranya orang lebih banyak juga tertawa, tentu dia akan turut tertawa pula. Yang lain menangis untuk memperlihatkan kepada umum bahawa dia ada menaruh perasaan halus. Ada pula yang menangis kerana di dinding yang telah runtuh-runtuh itu dilihatnya cita-cita yang patah; orang ini tukang meratapi barang yang rosak, tukang menyadar pusaka lama dan benda kuno.

Orang-orang yang mempunyai otak sempit, yang tak mahu mengakui kalau mereka tak mengerti, dan kalau mereka mengerti sekalipun, kerana mereka hanya mencari kalau-kalau ada yang salah dan tergandeng. Orang ini lebih patut dikasihi daripada orang yang menangis itu.

Nun di sana! Kataku lagi. Ada pula saya lihat dua orang tegak berdiri, tidak menangis dan tidak tertawa. Seorang lelaki dan seorang perempuan, keduanya berjalan dengan langkah yang tetap, berbimbing-bimbingan tangan, mukanya ditekurkannya, matanya menunjukkan bahawa mereka sedang keras berfikir. Siapa pulakah yang berdua itu? Tanyaku.

Dia pun menoleh kepada kedua bayang-bayang orang itu seraya berkata:

“Yang berdua itulah bumi yang subur, itulah lilin kesucian yang memberi terang. Yang berdua itulah yang memahamkan, sebab itu mereka beroleh faedah!”.

Dengan hati duka nestapa aku berkata: Sayang, begitu indah pidato yang diucapkan, begitu meresap ke dalam jantung, begitu banyak pula orang yang mendengar, cuma… cuma berdua orang mengambil faedah.

Mendengar itu timbullah cahaya yang ganjil, cahaya yang datang dari langit tergambar pada wajah bayang-bayang itu, dan berkata:

“Bukan begitu, bahkan inilah pidato yang sangat berfaedah, pidato yang meresap ke hati kedua bayang-bayang tadi. Itu pun pusaka mahal utuk segenap masa, pada kedua fikiran itu barang kuno akan diperbaharui. Lantaran cahaya yang datang dari pelajaran itu, sirnalah keonaran dan kebusukan, timbullah cahaya yang hidup dari matahari falak dan matahari otak. Itulah pidato yang bererti, itulah pidato yang berharga…”.

Tiba-tiba bayang-bayang ini pun pergilah!

Pergi menurutkan awan dari bayang-bayang khayal tadi, dirangkulnya kedua bayangan itu ke dalam dua sayapnya yang lunak dan halus, dibawanya keduanya terbang membumbung tinggi ke angkasa dalam pemeliharaan dan perlindungannya.

_________________________________________***_______________________________________

Tulisan di atas sangat bernuansa positif dan optimis, setidaknya mengajarkan kepada kita agar mampu melihat sesuatu dari sisi positifnya terlebih dahulu, sehingga semangat yang timbul dalam diri kita semangat optimis…

 

Salam,
MA


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




James's Files

My notes as a civil engineer

Juang's Blog

Hubungan diatara dua pristiwa.

Gouw - Senior Geotechnical Consultant

Geotechnical Engineering Practices (Indonesia)

The works of Wiryanto Dewobroto

as structural engineer, lecturer and writer

benusaganiblog

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: